MAHASISWA KKN MENGHADIRI INAUGURASI PC GP ANSOR KABUPATEN BANYUWANGI
Pada Sabtu malam, tanggal 19 Juli 2025, gelaran pelantikan Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Banyuwangi masa khidmat 2025–2029 resmi dilangsungkan di Auditorium Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Muncar. Acara yang dimulai tepat pukul 19.00 WIB tersebut berlangsung khidmat dan penuh semangat kebangsaan, menjadi momentum penting dalam arah baru gerakan pemuda Nahdlatul Ulama di Bumi Blambangan.
Hadir dalam pelantikan tersebut jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Banyuwangi, Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Timur, tokoh agama, tokoh masyarakat, Mahasiswa, serta ratusan kader Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dari berbagai kecamatan di Banyuwangi. Tak kalah penting, perwakilan dari sejumlah organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan (ormek) turut memberikan dukungan, antara lain Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), serta organisasi kepemudaan lainnya. Mahasiswa KKN PPM Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi yang tengah bertugas di Desa Kedungrejo Kecamatan Muncar turut hadir untuk mendokumentasikan secara langsung pelaksanaan kegiatan ini.
Prosesi pelantikan secara resmi mengukuhkan Sahabat Arvy Rizaldi sebagai Ketua PC GP Ansor Banyuwangi bersama jajaran pengurus lainnya untuk masa khidmat lima tahun ke depan. Dalam sambutannya, Arvy menyampaikan pandangan strategis tentang pentingnya redefinisi peran pemuda Ansor. Ia menekankan bahwa Ansor tidak boleh hanya hadir sebagai pelengkap dalam kegiatan seremonial, tetapi harus mampu menjadi motor penggerak dalam transformasi sosial di tengah masyarakat.
“Sudah saatnya Ansor tidak hanya berdiri di barisan apel. Kita harus hadir di pusat pengambilan keputusan, menjadi bagian dari proses strategis pembangunan. Jika ruang belum dibuka, maka kita harus menciptakan ruang itu sendiri,” tegas Arvy, yang juga menjabat sebagai Anggota DPRD Kabupaten Banyuwangi.
Lebih jauh, Arvy menyuarakan pentingnya membangun kekuatan organisasi dari tingkat paling bawah. Baginya, pengurus ranting tidak boleh dianggap sebagai pelengkap administratif, melainkan sebagai pusat denyut kehidupan organisasi. “Ranting adalah nafas Ansor. Dari sanalah gerakan ini harus dimulai. Jangan menunggu komando—lihat masalah, cari jalan keluar, dan ambil peran,” ujarnya lugas.
Dalam pidatonya, Arvy juga mengingatkan kembali bahwa GP Ansor bukan sekadar organisasi yang besar karena jangkauannya, tetapi juga karena warisan sejarahnya. Ansor lahir di Banyuwangi pada 24 April 1934, bersamaan dengan pelaksanaan Muktamar ke-9 Nahdlatul Ulama. Fakta ini menjadikan Banyuwangi bukan hanya tempat tumbuh, melainkan tempat lahirnya gerakan kepemudaan NU pertama di Indonesia.

“Ansor tidak lahir di Jakarta, tidak juga di Surabaya. Ansor lahir di tanah ini, di Bumi Blambangan yang kita injak bersama. Ini bukan sekadar fakta historis, ini identitas. Dan identitas ini harus menjadi kebanggaan dan tanggung jawab,” ujarnya dengan penuh semangat.
Sementara itu, Ketua PW GP Ansor Jawa Timur, Sahabat Musyaffa’ Syafril, dalam arahannya menyampaikan apresiasi atas arah baru yang ditawarkan oleh kepengurusan baru GP Ansor Banyuwangi. Ia mendorong agar penguatan organisasi dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya pada aspek struktural, tetapi juga pada program-program yang menyentuh langsung kebutuhan umat.
“Harapannya, seluruh bidang dalam struktur Ansor Banyuwangi dapat berjalan aktif dan produktif. Jangan hanya eksis di papan nama, tapi eksis di tengah masyarakat, hadir memberi solusi dan kebermanfaatan,” tuturnya.
Rangkaian inaugurasi dan pelantikan ditutup dengan hiburan penampilan artis Banyuwangi, Della Monica bersama group musik Banyuwangi, dll. Sebagai mahasiswa KKN PPM kelompok 01 yang bertugas di Desa Kedungrejo serta terlibat langsung dalam pengamatan kegiatan ini, kami mencatat bahwa pelantikan ini bukan hanya bagian dari dinamika organisasi internal GP Ansor, melainkan juga representasi dari semangat kolaboratif antarelemen pemuda di Banyuwangi. Kehadiran ormek lintas ideologi, Mahasiswa, hingga simpul-simpul masyarakat sipil lainnya mencerminkan bahwa GP Ansor memiliki posisi strategis sebagai simpul penyatu, bukan sekadar pelaku.
