Bersama dalam Membersamai Masyarakat

BANYUWANGI -Langkah mahasiswa UNIIB 2026 kembali berlanjut ke tahap yang lebih matang: Focus Group Discussion (FGD) bersama para stakeholder Desa Kepundungan, bertempat di Balai Desa Kepundungan. Jika sebelumnya inkulturasi dan stakeholder mapping menjadi pintu masuk untuk mendengar dan memahami, maka FGD kali ini menjadi ruang untuk merumuskan bersama memastikan program kerja yang akan dijalankan benar-benar lahir dari kebutuhan dan masukan masyarakat, bukan sekadar rencana di atas kertas, Senin (20/07/2026).

Forum ini dihadiri oleh sejumlah tokoh yang selama ini menjadi tulang punggung urusan sosial-keagamaan di desa: Bapak M. Khoirudin dari KUA, Bapak H. Basuni yang mengurusi pemulasaraan jenazah laki-laki, Ibu Kasih Hayati yang mengurusi pemulasaraan jenazah perempuan, Ibu Abid, S.Pd., serta Bapak H. Muslimin selaku Pembantu Pegawai Pencatat Nikah (P3N). Kehadiran mereka menghadirkan perspektif yang lengkap—dari sisi legalitas keagamaan, pelayanan sosial kematian, dunia pendidikan, hingga pencatatan pernikahan di tingkat desa.

Diskusi berlangsung sangat hidup. Setiap stakeholder aktif menyampaikan pandangan, saling menanggapi, bahkan tak jarang muncul perdebatan kecil yang justru memperkaya arah program kerja yang akan disusun. Semangat ini menunjukkan satu hal: bahwa warga Kepundungan bukan sekadar objek program, melainkan mitra yang punya suara dan kepentingan untuk dilibatkan sejak awal.

Di penghujung acara, Kepala Desa Kepundungan menyampaikan sambutan penutup yang menegaskan pentingnya forum semacam ini. Beliau menyampaikan bahwa FGD adalah tahap yang tidak boleh dilewatkan sebelum program kerja dijalankan, karena dari sanalah program bisa benar-benar menyentuh akar persoalan desa, bukan sekadar formalitas kegiatan mahasiswa. Kepala Desa juga menitipkan harapan besar agar setiap proker yang lahir dari forum ini dapat berjalan selaras dengan kebutuhan riil masyarakat, memberi manfaat jangka panjang, serta menjadi bagian dari upaya bersama membangun Desa Kepundungan yang lebih tertib secara administratif dan kuat secara sosial-keagamaan.

Hari ini menjadi penanda: bahwa program kerja yang baik tidak lahir dari ruang sunyi, melainkan dari forum yang ramai gagasan dan penuh keterlibatan—tempat setiap pihak merasa memiliki dan turut menentukan arah pengabdian.

Pewarta: Raizzakkii

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas