Sebulan Mengakar, Selamanya Menginspirasi

Banyuwangi — Di sela padatnya program kerja utama, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi (UNIIB) Kelompok 02 turut menyisipkan kegiatan partisipatif bersama masyarakat Desa Kepundungan, Kecamatan Srono, Banyuwangi. Dua kegiatan yang rutin dijalankan secara bergantian oleh seluruh anggota kelompok ini adalah mengajar Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) serta membersamai belajar anak-anak lingkungan sekitar sekaligus mengikuti tahlil setiap malam Jumat.

Kegiatan mengajar TPQ dilaksanakan setiap sore pukul 15.30–16.15 WIB, di mana mahasiswa secara bergiliran turut membimbing anak-anak dalam belajar mengaji, menghafal doa-doa harian, hingga menanamkan adab-adab dasar keislaman. Kehadiran mahasiswa disambut antusias oleh santri-santri kecil yang semakin bersemangat mengikuti kegiatan mengaji dengan suasana yang lebih hidup.

Selain itu, usai shalat Maghrib berjamaah, mahasiswa turut membersamai anak-anak dalam kegiatan belajar bersama di lingkungan sekitar, sekaligus mengikuti tradisi tahlil yang rutin digelar warga setiap malam Jumat. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya membantu anak-anak dalam menyelesaikan tugas sekolah, tetapi juga turut merasakan kehangatan tradisi keagamaan yang telah lama mengakar di tengah masyarakat Kepundungan.

Salah satu guru TPQ setempat menyampaikan rasa syukur dan harapannya atas keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan keagamaan dan pendidikan anak-anak ini. “Semoga apa yang sudah ditanamkan mahasiswa selama sebulan ini tidak hanya berhenti begitu saja, tapi terus mengakar dan tumbuh di hati anak-anak kami. Meski nanti mahasiswa sudah kembali ke kampus, kami berharap semangat belajar dan mengaji yang sudah dibangun ini bisa terus menginspirasi dan berlanjut,” ujar guru TPQ tersebut.

Kegiatan partisipatif ini menjadi bukti bahwa pengabdian mahasiswa KKN-PPM Kelompok 02 tidak hanya berhenti pada program kerja formal, tetapi juga hadir dalam kebersamaan sederhana bersama anak-anak dan warga—menjadikan sebulan masa pengabdian sebagai akar yang diharapkan terus tumbuh dan menginspirasi jauh setelah mahasiswa meninggalkan Desa Kepundungan.

Penulis (Raizzakkii)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas