INOVASI MAHASISWA KKN PPM UNIIB: OLAH HASIL PANEN TOGA DAN BUAH NAGA JADI PRODUK BERNILAI TAMBAH
BANYUWANGI – Tegaldlimo, 15 Agustus 2025 – Suasana Balai Desa Tegaldlimo pada Jumat (15/8) terasa berbeda dari biasanya. Ibu-ibu PKK, perangkat desa, serta mahasiswa kelompok 6 KKN PPM Universitas Islam Ibrahimy (UII) berkumpul dengan penuh antusias dalam kegiatan Sosialisasi dan Demonstrasi Pengolahan Hasil Panen TOGA dan Buah Naga. Kegiatan ini menjadi tindak lanjut dari program Green Corner TOGA yang sebelumnya telah berhasil diwujudkan sebagai ruang hijau produktif di lingkungan desa.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa bersama masyarakat mencoba menghadirkan nilai tambah dari hasil panen lokal dengan mengolahnya menjadi produk olahan yang sehat, kreatif, dan memiliki potensi ekonomi. Dua produk unggulan yang diperkenalkan adalah teh rimpang yang menyehatkan serta es krim buah naga yang segar nan nikmat.
Ketua kelompok 6 KKN PPM UII menuturkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar memperkenalkan resep baru, melainkan memberikan inspirasi tentang pentingnya inovasi pangan berbasis potensi lokal. “Kami ingin masyarakat melihat hasil panen bukan hanya sebagai bahan konsumsi, tetapi juga sebagai peluang usaha. Teh rimpang dan es krim buah naga ini adalah contoh sederhana bagaimana kreativitas dapat mengubah hasil pertanian menjadi produk bernilai jual,” jelasnya.
Proses sosialisasi diawali dengan pemaparan manfaat TOGA, khususnya rimpang seperti jahe, kunyit, dan serai, yang selama ini dikenal sebagai bahan herbal menyehatkan. Mahasiswa kemudian mendemonstrasikan cara pengolahan rimpang menjadi teh, dimulai dari pencucian, pengirisan, pengeringan, hingga penyeduhan. Aroma hangat khas rempah-rempah langsung memenuhi ruangan, menciptakan suasana akrab sekaligus menambah semangat peserta.
Sesi berikutnya adalah demonstrasi pembuatan es krim buah naga. Dengan bahan yang sederhana, mahasiswa menunjukkan langkah-langkah praktis yang dapat ditiru ibu-ibu PKK di rumah. Hasil olahan pun langsung dicicipi bersama, menghadirkan rasa segar yang disambut antusias peserta. “Ternyata enak sekali dan mudah dibuat. Ini bisa jadi ide usaha baru bagi kami,” ujar salah satu anggota PKK dengan wajah sumringah.
Kegiatan semakin hangat ketika peserta diajak untuk mencoba langsung proses pengolahan. Beberapa ibu tampak bersemangat mengiris rimpang, sementara yang lain membantu mengaduk adonan es krim. Interaksi ini tidak hanya mempererat hubungan mahasiswa dengan masyarakat, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri bagi warga bahwa mereka mampu menghasilkan produk inovatif dari hasil bumi desa sendiri.
Kepala Desa Tegaldlimo dalam sambutannya mengapresiasi kegiatan ini sebagai bentuk nyata pengabdian mahasiswa yang bermanfaat langsung bagi warga. “Kami merasa bangga dan terbantu dengan adanya kegiatan ini. Mahasiswa UII telah memberikan contoh bagaimana hasil pertanian lokal dapat diolah menjadi produk bernilai. Harapannya, pengetahuan ini tidak berhenti di sini, tetapi bisa terus dikembangkan menjadi usaha mandiri warga desa,” ungkapnya.
Selain menambah keterampilan baru bagi masyarakat, kegiatan ini juga membawa pesan penting tentang keberlanjutan. Dengan adanya Green Corner TOGA, warga diajak tidak hanya menanam dan memanen, tetapi juga mengolah hasilnya menjadi produk sehat dan bernilai jual. Langkah ini sejalan dengan visi pembangunan desa yang berorientasi pada ketahanan pangan, kesehatan keluarga, dan kemandirian ekonomi.
Pada penutupan acara, mahasiswa menegaskan komitmen mereka untuk terus mendampingi warga dalam mengembangkan keterampilan pengolahan hasil pertanian. Rencana lanjutan pun sudah mulai dibicarakan, termasuk bagaimana memasarkan produk olahan teh rimpang dan es krim buah naga agar memiliki daya saing di pasaran.
Dengan demikian, rangkaian kegiatan kelompok 6 KKN PPM Universitas Islam Ibrahimy tidak hanya berakhir pada penanaman dan penghijauan, tetapi juga memberi dampak nyata berupa peningkatan nilai ekonomi dari hasil pertanian lokal. Inovasi sederhana yang lahir dari kolaborasi ini diharapkan menjadi inspirasi bagi masyarakat Desa Tegaldlimo untuk terus berkreasi, sekaligus menjadi model pengabdian yang dapat diterapkan di desa-desa lain.
