Sinergi Ekologi dan Tradisi: Kelompok 13 KKN Ibrahimy Petakan Potensi Desa Plampangrejo Melalui Observasi Komunikatif

BANYUWANGI – Kelompok 13 Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN)-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Universitas Ibrahimy, Awali langkah pengabdian masyarakat dengan pemetaan potensi di Desa Plampangrejo, Kecamatan Cluring. Guna melahirkan program kerja yang adaptif, akuntabel, dan berbasis data riil lapangan (evidence-based), mahasiswa menggelar observasi awal dan koordinasi perdana bersama jajaran pemerintah desa di ruang koordinasi, Balaidesa Plampangrejo pada Kamis (11/6/2026).

kunjungan perdana ini difokuskan secara murni untuk menggali potensi wilayah serta memetakan arah pengembangan desa secara objektif. Pihak kelompok mahasiswa menegaskan bahwa pada fase awal ini, kelompok KKN belum memfinalisasi program kerja (proker) apa pun. Langkah jujur ini diambil karena mahasiswa berkomitmen untuk terlebih dahulu menyelami denyut nadi kebutuhan masyarakat, mengumpulkan instrumen masalah, serta memahami karakteristik sosiokultural warga setempat agar program yang lahir nantinya tidak bersifat top-down atau salah sasaran.

Rangkaian kordinasi perdana ini, berlangsung sejak pagi sekitar pukul 08.30 hingga selesai. Pertemuan ini diawali dengan pertemuan intensif bersama perangkat desa yang ditugaskan khusus untuk mengawal kelompok KKN, yaitu Kepala Dusun (Kasun) Ringinpitu dan Kasun Krajan, dengan didampingi langsung oleh Sekretaris Desa (Sekdes) Plampangrejo. Agenda formal tersebut dibuka secara resmi oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Ibrahimy, yang kemudian dilanjutkan dengan pemaparan kondisi eksisting wilayah oleh pihak pemerintah desa.

Dalam kesempatan tersebut, pihak Sekdes dan Kasun memaparkan status strategis Desa Plampangrejo yang saat ini terpilih untuk menyukseskan gerakan daerah “Banyuwangi Hijau”. di tengah dorongan inovasi lingkungan modern tersebut, masyarakat Plampangrejo masih teguh dan konsisten merawat kearifin lokal, salah satunya adalah tradisi sakral Ruwatan Desa atau bersih desa yang rutin diselenggarakan setiap tahunnya. Roda penggerak kemajuan ini kian kuat karena didukung oleh pilar kepemudaan desa yang terkenal kompak, solid, dan penuh euforia.

Mewakili jajaran pemerintah desa, Kasun Krajan, Desa Plampangrejo menyampaikan pandangan penataan ruang dan sosial yang ada di wilayahnya, sekaligus memberikan ruang penuh bagi proses pemetaan yang sedang dilakukan oleh mahasiswa.

“Desa Plampangrejo ini memiliki dinamika yang unik; kami berjalan menuju digitalisasi dan kelestarian ekologi lewat program ‘Banyuwangi Hijau’, masyarakat juga masih menjaga fondasi budaya seperti Ruwatan dan kekompakan para pemuda tetap menjadi motor utama penggerak swadaya. Kami sengaja ditugaskan berkoordinasi dengan adik-adik, agar adik-adik KKN Ibrahimy mendapatkan data yang akurat langsung dari kewilayahan. Pihak desa tidak akan mengintervensi program inti kalian, silakan dipetakan dulu apa yang menjadi kebutuhan, nantinya biar sama-sama enak” urai pihak Kasun Krajan saat memberikan pembekalan materi.

pihak perangkat desa juga membagikan satu rencana strategis yang tengah dipersiapkan desa, yakni gagasan pengadaan teknologi mesin pengolahan kotoran kambing untuk dikonversi menjadi pupuk organik secara mandiri demi menopang sektor pertanian lokal berbasis lingkungan terintegrasi (eco-farming).

Nadia, Selaku kordinator Desa (Kordes) kelompok 13 mahasiswa KKN Ibrahimy, yang ikut serta dalam forum peninjauan tersebut, menjelaskan bahwa memahami sudut pandang holistik masyarakat serta status istimewa desa merupakan prioritas utama kelompok saat ini, sebelum melangkah ke tahap rancangan proker.

“Kami diterima dengan kehangatan yang luar biasa oleh jajaran perangkat desa Plampangrejo. Di observasi pertama ini, tujuan utama kami memang murni melakukan pemetaan potensi dan arah pengembangan desa. Kami secara jujur belum mengunci proker apa pun karena kami ingin mendengar, melihat, dan merasakan langsung apa yang menjadi kebutuhan nyata masyarakat. Terlebih, Desa Plampangrejo memiliki daya tarik yang luar biasa sebagai perpaduan antara inovasi lingkungan Banyuwangi Hijau, kelestarian tradisi Ruwatan yang sakral, serta modal sosial pemudanya yang luar biasa kompak,” ungkap Nadia. Selaku Bu Kordes kami.

Selesai melakukan bincang-bincang di ruang koordinasi desa, agenda dilanjutkan dengan foto bersama hingga pembuatan konten bersama pihak desa,  setelah itu kelompok Mahasiswa melakukan survei lokasi posko yang berjarak kurang lebih 2 kilometer dari Balaidesa. Sebelum meninjau lokasi tersebut, pihak pemerintah desa sempat menawarkan alternatif yang sangat, yaitu agar posko ditempatkan di dalam area Balaidesa saja, mengingat faktor perlindungan dan keamanan mahasiswa menjadi prioritas utama yang sangat diperhatikan oleh pihak desa. Setelah meninjau kelayakan fisik di lokasi posko, tim mahasiswa KKN Ibrahimy bersama perangkat desa kembali bertolak ke Balaidesa Plampangrejo.

Rangkaian observasi perdana ini pun ditutup dengan sesi diskusi lanjutan bersama Kepala Desa Plampangrejo yang bergabung menemui kelompok mahasiswa sekitar pukul 10.40 WIB setelah merampungkan agenda kerja lainnya. Dalam pertemuan penutup tersebut, Kepala Desa menyambut hangat kehadiran mahasiswa, memberikan lampu hijau, serta menyatakan kesiapan jajaran desa untuk mendukung penuh dan mengawal kelancaran program pengabdian mahasiswa selama satu bulan ke depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas