MAHASISWA KKN-PPM UNIIB DESA GRAJAGAN IKUT SERTA DALAM KEGIATAN TASYAKURAN SEDEKAH BUMI LINTAS AGAMA
BANYUWANGI – Tim KKN-PPM 18 Desa Grajagan berpartisipasi dalam rangkaian tradisi tahunan Sedekah Bumi yang sarat nilai budaya dan toleransi, Minggu (20/07/2025). Kegiatan yang mengusung tema harmoni agama dan budaya ini menjadi momen penting bagi masyarakat Desa Grajagan sekaligus menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa.
Rangkaian acara diawali dengan kirab budaya yang diikuti oleh warga dari berbagai latar belakang agama. Mereka berjalan bersama sambil membawa hasil bumi — sayuran, buah, dan hasil tani lainnya — yang disusun menjulang tinggi sebagai simbol rasa syukur atas rezeki, keselamatan, dan keberkahan yang diterima masyarakat. Prosesi kirab diiringi dengan gamelan tradisional dan penampilan warga dengan pakaian adat, menciptakan suasana khidmat sekaligus meriah.
Setelah kirab budaya, seluruh peserta mengikuti doa bersama lintas agama yang dipimpin oleh perwakilan tokoh agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Doa lintas iman ini menjadi penegasan bahwa perbedaan keyakinan di Desa Grajagan bukanlah penghalang, melainkan jembatan untuk memperkuat persatuan dan semangat gotong royong.
Mahasiswa KKN-PPM Universitas Islam Ibrahimy dari kelompok 18 ikut terlibat aktif, mulai dari persiapan kegiatan, dokumentasi, hingga pendampingan teknis selama acara berlangsung. Keterlibatan ini menjadi pembelajaran langsung mengenai nilai kearifan lokal, gotong royong, dan praktik nyata nilai-nilai Pancasila di kehidupan masyarakat Desa Grajagan yang dikenal sebagai Desa Pancasila.

Tradisi Sedekah Bumi Desa Grajagan 2025 kembali menjadi bukti bahwa harmoni agama dan budaya dapat berjalan berdampingan. Dari ujung timur Pulau Jawa, gema toleransi dan rasa syukur ini diharapkan terus menyebar ke seluruh penjuru negeri.
Tahun ini, tradisi Sedekah Bumi kembali digelar, namun bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah panggung kebudayaan, ruang syukur kolektif, dan napas keberagaman. Warga dari berbagai latar belakang keyakinan berjalan bersama, membawa hasil bumi yang disusun menjulang tinggi seakan ingin menyampaikan doa syukur mereka hingga langit tertinggi. Setiap sayuran, buah, dan hasil tani yang dipanggul bukan hanya simbol panen, tapi juga simbol cinta pada tanah, leluhur, dan sesama.
Yang istimewa, Sedekah Bumi Grajagan 2025 tak berjalan sendiri. Mahasiswa KKN Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi turut hadir, menjadi bagian dari denyut tradisi. Mereka tak hanya mengamati, tapi ikut menyatu—mendokumentasikan, membantu warga, dan belajar langsung dari masyarakat tentang cara menjaga nilai-nilai Pancasila dalam tindakan nyata.
Di tengah kirab budaya, doa lintas agama dipanjatkan bersama. Tak ada sekat, hanya simpul-simpul kebersamaan yang dikuatkan lewat iringan gamelan, tumpeng raksasa, dan semangat saling menghormati. Desa Grajagan mengajarkan kita satu hal penting: bahwa keberagaman bukan untuk diperdebatkan, tapi untuk dirayakan. Dari ujung timur Jawa Timur, gema toleransi, syukur, dan budaya lokal terus bergema. Semoga dari Grajagan, nilai-nilai ini menjalar ke seluruh pelosok negeri.
