MAHASISWA KKN PPM UNIIB IKUT MERIAHKAN TRADISI IDER BUMI DI DESA KEDUNGREJO
BANYUWANGI – Tradisi tahunan Ider Bumi di Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, berlangsung dengan penuh khidmat dan semangat kebersamaan, Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda Ruwat Desa, yang rutin dilaksanakan setahun sekali sebagai bentuk rasa syukur dan doa keselamatan untuk seluruh warga.
Tahun ini, sebanyak 14 mahasiswa KKN PPM 2025 dari Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi (UNIIB) berkesempatan ikut terlibat langsung dalam kegiatan tersebut. Prosesi digelar pada Kamis dini hari (17/7/25), dimulai sekitar pukul 00:30 sampai 02:30 WIB.
Berbeda dari yang dibayangkan, Ider Bumi ini bukan jalan kaki keliling desa, tapi konvo naik motor bareng perangkat desa, tokoh masyarakat, dan warga. Rombongan berangkat dari balai desa, lalu keliling ke lima dusun yang ada di wilayah Desa Kedungrejo : Dusun Krajan, Sampangan, Stoplas, Kalimati, dan Muncar. Rombongan juga menyempatkan diri menziarahi Makam Mbah Laut di Dusun Kalimati sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur setempat.
Selama perjalanan, rombongan berhenti di titik-titik tertentu untuk melakukan ritual doa dan menaruh sesajen sebagai simbol keselamatan. Masing-masing dusun punya tempat yang dianggap penting secara spiritual, dan semuanya disinggahi dengan penuh penghormatan.
“Baru pertama kali ikut Ider Bumi, dan ternyata seru banget! Meski acaranya tengah malam, suasananya sakral tapi tetap guyub. Warga juga ramah-ramah dan semangat banget ikut keliling,” cerita salah satu mahasiswa KKN.
Yang bikin berkesan, meski waktunya dini hari, warga tetap antusias menyambut rombongan. Ada yang ikut naik motor, ada juga yang menyalakan lampu depan rumah sebagai bentuk penghormatan.
Setelah seluruh dusun selesai dikunjungi, rombongan melanjutkan prosesi ke halaman Balai Desa Kedungrejo, tepatnya di bawah pohon beringin besar yang dipercaya memiliki nilai simbolis dan spiritual. Di tempat ini, seluruh perangkat desa bersama warga dan peserta KKN berkumpul mengelilingi pohon, lalu meletakkan sesajen sebagai bentuk harapan dan doa keselamatan bagi desa.
Sebagai penutup dari seluruh rangkaian Ider Bumi, rombongan bergerak menuju Gumuk yang terletak di belakang kantor desa. Di titik terakhir ini, prosesi ditutup dengan doa bersama, menandai berakhirnya ritual Ruwat Desa tahun ini dengan penuh kekhidmatan.
Menariknya, menurut cerita dari Cak Ikin dan Pak Munir (Pak Wo Kalimati), Gumuk ini menyimpan banyak kisah spiritual. Saat pembangunan proyek BMX, dua alat berat pernah mengalami kerusakan di tempat ini. Selain itu, warga sempat melihat kemunculan ular besar yang dipercaya sebagai penunggu kawasan tersebut. Di area gumuk juga terdapat sebuah batu besar yang diyakini dijaga oleh kekuatan gaib — batu itu ditahan oleh sebilah keris agar tidak longsor, dan posisi keris tersebut berada di bagian selatan batu.
Cerita-cerita tersebut menambah kekhusyukan suasana prosesi sekaligus menjadi pelajaran bagi kami tentang pentingnya menghormati alam, sejarah, dan kearifan lokal. Buat mahasiswa KKN, pengalaman ini jadi momen berharga untuk mengenal tradisi dan budaya lokal secara langsung. Nggak cuma belajar di atas kertas, tapi benar-benar menyatu dengan kehidupan masyarakat. Tradisi seperti Ider Bumi ini membuktikan kalau budaya lokal masih hidup dan punya makna besar dalam menjaga harmoni dan kebersamaan warga desa.
Oleh: Farah Azhari
